PROBLEMATIKA KESUBURAN TANAH DI SEKITAR
DI LAHAN BUDIDAYA PADI, BOJONG NANGKA, TANGERANG
(Gindi Haerulah 18/430441/PN/15758)
Kesuburan tanah
merupakan kemampuan tanah menyediakan unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman
untuk mendukung pertumbuhan dan reproduksinya (Hardjowigeno, 2007). Kesuburan
tanah adalah suatu keadaan tanah dimana tata air, udara dan unsur hara dalam
keadaan cukup seimbang dan tersedia sesuai kebutuhan tanaman, baik fisik,
kimia, maupun biologi tanah. Keadaan fisika tanah meliputi kedalaman efektif,
tekstur, struktur, kelembaban, dan tata udara tanah. Keadaan kimia tanah
meliputi reaksi tanah (pH tanah), KPK, bahan organik, banyaknya
unsur hara, cadangan unsur hara, dan ketersediaan terhadap pertumbuhan tanaman.
Sedangkan biologi tanah antara lain meliputi aktivitas mikrobia perombak bahan
organik dalam proses humifikasi dan pengikatan nitrogen udara (Sulakhudin et al., 2016).
Kesuburan tanah
merupakan sifat alami tanah yang dapat berubah akibat pengaruh dari faktor alam
dan manusia (Khaki et al., 2017). Kesuburan tanah adalah kemampuan suatu
tanah untuk menyediakan unsur hara, pada takaran dan keseimbangan tertentu
secara berkesinambungan, untuk menunjang pertumbuhan suatu jenis tanaman pada
lingkungan dengan faktor pertumbuhan lainnya dalam keadaan menguntungkan
(Poerwowidodo, 1992 cit. Husni et al., 2016).
Pada
acara 5 kali ini, saya menganalisa problematika kesuburan tanah di sekitar
saya. Petani yang menjadi narasumber pada acara problematika kesuburan tanah di
sekitar kali ini ialah Bapak Eyang yang berumur 65 tahun. Wawancara ini
dilakukan pada hari Jumat, 27 November 2020 pukul 09.30 WIB di Bonang,
Tangerang. Pak Eyang membudidayakan padi dengan landuse sawah, fisiografi
dataran, topografi datar, kedalaman air tanah <50 cm, dan altitude....
Menurut
hasil wawancara, produktivitas yang dihasilkan dari padi yang ditanam pada
lahan sebesar 3.500^2 ialah
sebesar 19 karung dengan berat tiap karung sebesar 5kg. Itu berarti Pak Eyang
dapat menghasilkan 95kg padi tiap musim tanam. Terjadi naik-turun produktivitas
setiap tahunnya yang mana menurut Pak Eyang disebabkan oleh naik-turunnya
pengaplikasian pupuk.
Jarak
tanam pada tanaman monokultur varietas padi yang diterapkan oleh Pak Eyang
ialah sebesar 30cm. Umur sawah ketika diwawancara memasuki 2 bulan dengan umur
panen 120 hari atau sekitar 4 bulan. Pengolahan tanah sudah menggunakan
traktor, dan sesekali dicangkul di bagian pinggiran sawahnya. Pupuk yang
digunakan oleh Pak Eyang ialah pupuk kandang, pupuk urea dan gandasil buah agar
isinya bagus.
Menurut
pengamatan, keadaan tanah Pak Eyang memiliki tekstur halus kelembekan dengan
sedikit terasa kerikil kecil. Warna dari tanah tersebut kecoklatan. Ph tanah
menurut Pak Eyang sudah aman, namun masih diragukan apakah itu berdasarkan
riset atau hanya berdasarkan terkaan dari pengalaman Pak Eyang yang tidak
memiliki permasalahan pada lahannya. Yang menjadi permasalahan pad atanah pak
Eyang justru datang dari pupuk yang ia gunakan. Menurutnya, harga pupuk yang ia
beli cukup mahal yaitu sebesar Rp 5.000/karung pupuk kandang. Ia pun tidak
mendapatkan bantuan pupuk dari pemerintah. Harapannya, Pak Eyang bisa
mendapatkan supplier pupuk yang lbisa memberikan harga pupuk lebih murah dan
bisa mendapatkan bantuan pupuk dari pemerintah.
DAFTAR PUSTAKA
Khaki B.D., N. Honarjoo, N. Davatgar, A. Jalalian, and H.T.
Golsefidi. 2017. Assessment of Two Soil Fertility Indexes to Evaluate Paddy
Fields for Rice Cultivation. Sustainability (9).
Husni, M.R., Sufardi,
and M. Khalil. 2016. Evaluasi status kesuburan pada beberapa jenis tanah di lahan
kering kabupaten pidie provinsi aceh. Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Unsyiah
1(1): 147-154.
Hardjowigeno, S. 2007. Ilmu Tanah. Akademika
Pressindo, Jakarta.
Sulakhudin, D. Suswati, dan S. Gafur. 2016. Kajian status kesuburan tanah pada
lahan sawah di Kecamatan Sungai Kunyit Kabupaten Menpawah. Jurnal Pedon Tropika
1(3): 106-114.
LAMPIRAN




Comments
Post a Comment