MEMBUAT KOMPOS

 (Gindi Haerulah 18/430441/PN/15758)

 

Pupuk kompos adalah pupuk yang berasal dari proses penguraian sampah organik, seperti dedaunan. Pupuk kompos terkenal dapat menyuburkan tanaman dan tidak menggunakan bahan-bahan kimia. Dengan menggunakan pupuk kompos, tanaman dapat berkembang dengan baik, dikarenakan kompos merupakan bahan alami yang tidak merusak lingkungan tanah. Pupuk kompos berfungsi memperbaiki struktur tanah dengan meningkatkan kandungan bahan organik tanah dan akan meningkatkan kemampuan tanah untuk mempertahankan kandungan air tanah. Selain itu, pupuk kompos dapat memperbaiki sifat-sifat fisik tanah, seperti permeabilitas tanah, porositas tanah, daya menahan air tanah, dan kation-kation tanah, serta sebagai sumber nutrisi bagi tanaman (Oktaviani, 2017)

 

Aktivitas mikroba tanah yang bermanfaat bagi tanaman akan meningkat dengan penambahan kompos. Aktivitas mikroba ini membantu tanaman untuk menyerap unsur hara dari tanah. Aktivitas mikroba tanah juga diketahui dapat membantu tanaman menghadapi serangan penyakit. Mendaur ulang sampah menjadi pupuk kompos mempunyai keuntungan ganda, yaitu pertama kita dapat mengolah sampah secara tepat guna dan yang kedua adalah dengan mengolah sampah menjadi pupuk kompos, maka keuntungan secara komersial akan tinggi, karena pupuk kompos mempunyai nilai jual yang cukup tinggi (Ladan, 2014).

            Pada acara kali ini, praktikan akan membuat pupuk kompos di rumah masing-masing. Terdapat tiga metode yang dapat dilakukan yaitu aerob, anaerob, dan takakura. Saya menggunakan metode takakura karena namanya yang menarik. Untuk bahannya, saya menggunakan sampah hasil menyapu di pagi hari, berupa sampah dedaunan. Saya menggunakan EM4 sebagai aktivator.

            Pada saat pelaksanaannya, saya memiliki banyak kendala. Diantaranya adalah saya sulit sekali menemukan keranjang yang pas. Walau sebenarnya tidak terlalu berpengaruh signifikan, namun lubang yang terlalu besar dan terlalu banyak dapat mempengaruhi hasil. Saya mengakalinya dengan mem-block lubang sebagian kecil lubang tersebut dengan lakban. Lalu, untuk sekam saya tidak menemukan yang langsung jadi sekam. Saya akhirnya membuat sendiri dengan mengisi sarung tidak terpakai dengan sekam, sebagai bantalan sekam



Diawal pelaksanaan saya juga mendapatkan kegagalan, yaitu EM4 yang tidak bereaksi karena diawal saya salah mengaplikasikan EM4 yang seharusnya dicampurkan dulu dengan gula, namun saya malah langsung memasukannya ke sampah.



Akhirnya setelah mengalami kegagalan, saya dapat mendapatkan hasil seperti yang diinginkan, yaitu pupuk kompos dengan kadar air yang lembab namun tidak basah jika diperas memakai tangan, dan cukup hitam dan tidak terlalu bau menyengat dengan memperbaiki metode saya yang salah diawal, yaitu dengan mencampurkan dulu EM4 dengan air dan gula.



 DAFTAR PUSTAKA

Ladan, S. I. 2014. Composting as a sustainable waste management method in Katsina Metropolis, Northern Nigeria. International Journal of Bioscience, Biochemistry and Bioinformatics 4(1): 11-13.

Oktaviani, M.M. 2017. Pengaruh Kombinasi Tanah, Arang Sekam, Kapur dan Pupuk Kompos sebagai Media Tanam terhadap Pertumbuhan Tanaman Ciplukan (Physalis angulata). Universitas Sanata Dharma. Skripsi.

Comments

Popular posts from this blog